Menurut legenda tutur tinular, diduga kuat bahwa Mbok Mas Kapuk, semasa mudanya bernama Putri Tunjung Biru, yang mana putri tersebut berwajah ayu, berkulit putih, cantik hatinya, juga merupakan istri dari Senopati. Banyak Kapuk dari Kerajaan Singosari terakhir dijaman Raja Kertanegara, ketika usia senja Putri Tunjung Biru bertapa menyucikan diri, bertapa dibawah pohon mojo raksasa yang bertuah (Angker) dan keramat itu, yang mana tempat Ken Arok dibuang semasa bayi dulu. Putri Tunjung Biru dalam semedinya dijaga para dayang sakti dan setia. Semakin lama, keadaan pertapa semakin tua renta. Tampak rambutnya putih semua kulitnya keriput, berpakaian serba putih dan bergelar Mbok Mas Kapuk. Setelah bertapanya mencapai klimaks dan mencapai titik kulminasi yang diinginkan tapanya diterima Sang Hyang Widi dan Mbok Mas Kapuk hilang muksanya (hilang bersama raganya). Masuk ke kainderaan. Para dayangnya kembali ke desa masing-masing dan memberitakan ke sanak famili dan handai taulan tentang kejadian yang ajaib di pohon mojo raksasa itu.
Sejak peristiwa itu, pohon mojo di hormati orang, dipundi-pundi dan sekarang menjadi punden. Khususnya rakyat desa Mojorejo, banyak orang yang percaya Mbok Mas Kapuk bersemayam di pohon mojo raksasa dan sewaktu-waktu menampakkan diri kepada orang yang dikehendakinya. Berita tentang kehebatan pohon mojo raksasa dan kesuburan tanah disekitarnya sangat menarik, orang-orang yang senang berpetualang mereka ingin mengadu nasib di tempat baru, membuka lahan perkebunan dan perkampungan baru.
Kira-kira abad ke 15, Desa Mojorejo berdiri. Yang memberi nama Desa Mojorejo, Ki Bekel Buyut, Mojorejo mempunyai arti mojo = pohon mojo raksasa yang hebat, rejo = ramai (banyak orang datang) membangun desa baru. Untuk jaman sekarang. Desa Mojorejo bisa diartikan semangat baja (semangat kuat) membangun segala bidang secara beramai-ramai atau bergotong royong didesa itu.